Tampilkan postingan dengan label Gaya Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gaya Hidup. Tampilkan semua postingan

Ayo, Imunisasi Dulu Sebelum Pergi ke LN

KOMPAS.com — Kalau Anda sering melancong ke luar negeri, tidak ada salahnya membentengi tubuh dengan melakukan imunisasi. Cara tersebut akan membantu Anda terhindar dari berbagai penyakit yang berkembang di negara lain.

Menurut Sukamto Koesnoe, dokter spesialis penyakit dalam alergi imunologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, seseorang yang bepergian ke luar negeri berpotensi terserang penyakit. Soalnya, stamina bisa saja menurun karena Anda melakukan perjalanan jauh atau perbedaan cuaca.

Buntutnya, kekebalan tubuh pun juga ikut-ikutan turun. Saat itu, tubuh Anda pun rentan terkena penyakit. "Kami sering kali merawat pasien yang menderita tifus, hepatitis A, malaria, dan demam berdarah setelah pulang dari bepergian," kata Sukamto. Nah, agar tak membawa oleh-oleh penyakit, ia menyarankan Anda membekali diri dengan imunisasi.

Lalu, imunisasi apa saja yang wajib dijalani saat kita ke luar negeri? Hal itu tergantung negara yang akan Anda kunjungi. Jika ingin plesiran ke negara-negara bekas Uni Soviet, Thailand, Aljazair, atau Ekuador, Anda dianjurkan untuk imunisasi difteri. Negara-negara itu menjadi tempat penyebaran virus difteri yang menyerang pernapasan.

Bila bepergian ke kawasan Asia Timur, ada baiknya Anda mempertahankan diri dengan vaksin Japanese encephalitis. Vaksin ini mencegah Anda terserang penyakit peradangan otak yang ditularkan oleh nyamuk jenis culex.

Bagi calon jemaah haji, sebaiknya lindungi diri dengan vaksin meningitis. Kuman meningitis bisa menyebabkan peradangan selaput otak. Pasalnya, ketika naik haji, Anda bakal bertemu dengan banyak orang. "Termasuk dengan orang dari daerah endemis meningitis, seperti Afrika," ujar Sukamto. (Kontan/Sanny Cicilia Simbolon)

Lingkungan Kerja Bisa Cetuskan Asma


Kompas.com - Meski penyakit asma lebih banyak muncul di masa kanak-kanak, nyatanya penyakit peradangan di saluran napas ini juga banyak diderita orang dewasa. Salah satu penyebabnya adalah faktor lingkungan kerja.

Atmosfer pekerjaan yang penuh tekanan dan membuat stres bisa menggangu kesehatan, salah satunya meningkatkan risiko terkena asma hingga 40 persen. Para pekerja yang selalu membawa pulang masalahnya merupakan kelompok yang paling beresiko.

Tim peneliti dari Jerman menyebutkan stres pekerjaan dan ketidakmampuan seseorang untuk bersantai setelah bekerja meningkatkan risiko asma. Kesimpulan itu dibuat berdasarkan penelitian terhadap 5000 pria dan wanita berusia 45-65 tahun.

Seluruh responden bebas asma sebelum bekerja. Namun mereka yang bekerja di lingkungan penuh tekanan mengalami peningkatkan insiden asma hingga 40 persen setelah enam tahun bekerja.

Lingkungan kerja yang bisa dianggap bisa mencetuskan asma antara lain memiliki jam kerja yang panjang, jadwal yang ketat, dan suasana kerja yang tidak nyaman. Menurut para ahli dari Mayo Clinic, beberapa partikel di ruangan kerja, seperti cat, debu kayu, zat pewarna sintentik, dan sebagainya, juga bisa memicu penyakit ini.

Sebelumnya sebuah penelitian menyebutkan stres akan menyebabkan tubuh melepaskan zat kimia yang memicu alergi dan menganggu tubuh melawan peradangan di saluran napas. Kendati demikian, masih diperlukan penelitian lanjutan untuk membuktikan hasil temuan tersebut.

Stres Picu Jerawat

Jerawat sangat mengganggu penampilan dan kecantikan kulit wajah. Banyak faktor penyebabnya. Mulai dari perawatan kulit yang salah, hingga stres berkepanjangan.

Seperti dikutip dari laman Genius Beauty, sejumlah pakar asal Norwegia meneliti wanita usia 18 hingga 19 tahun yang memiliki gangguan jerawat. Mereka menemukan bahwa mayoritas mengalami masalah psikologis. Cemas dan depresi dapat memperburuk kondisi kulit.

Penelitian mengungkap, rasa frustrasi menyebabkan kelenjar sebaceous memproduksi lebih banyak minyak yang bisa menyumbat pori-pori. Diane Berson, MD, anggota American Women’s Dermatologic Society pun menjelaskan, faktor-faktor yang bisa mempengaruhi timbulnya jerawat :

Hormon

Efek yang sama yaitu produksi minyak penymbat pori-pori juga dihasilkan saat terjadi perubahan hormon. Itulah sebabnya mengapa banyak gadis mengatakan rambut mereka terasa berminyak menjelang periode menstruasi. Bisa juga, jerawat timbul karena periode menstruasi yang tidak teratur.

Kosmetika

Produk kosmetika yang banyak digunakan remaja secara serampangan juga bisa memicu timbulnya jerawat. Make-up yang salah seperti pemakaian alas bedak bisa menyumbat pori-pori pemicu jerawat.

Diet sehat

Sangat disarankan untuk memperbanyak konsumsi sayur dan buah secara teratur untuk mencegah jerawat. Melakukan diet golongan darah juga cukup efektif membantu menjauhkan diri dari radang kulit itu. (adi)

Baca juga: Empat Makanan Penangkal Jerawat & Hentikan Meracuni Wajah Anda

Supaya Tubuh Kebal Virus


KOMPAS.com — Imunisasi biasanya identik dengan anak yang masih di bawah umur lima tahun (balita). Namun, bukan berarti imunisasi tidak berlaku bagi orang dewasa. Bahkan, imunisasi pada orang dewasa tidak kalah pentingnya dengan imunisasi pada anak.

Sepertinya halnya balita, orang dewasa juga perlu imunisasi. "Ini untuk merangsang ketahanan tubuh terhadap infeksi tertentu," kata Sukamto Koesnoe, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Alergi Imunologi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Sukamto bilang, banyak orang dewasa kini rentan terpapar virus dan bakteri yang bisa menimbulkan penyakit. Pemicunya bisa karena kesibukan yang padat plus gaya hidup tak sehat.

Nah, untuk mencegah berbagai penyakit tersebut, orang dewasa pun perlu melakukan imunisasi. Makanya, banyak negara maju menjadikan imunisasi untuk orang dewasa sebagai program rutin di bidang kesehatan.

Amerika Serikat, misalnya, tahun ini mencanangkan 60 persen vaksinasi influenza pada orang dewasa. Sementara itu, Korea Selatan menyediakan 10 juta vaksin influenza setiap tahun. Bahkan, 90 persen petugas medis di sana telah disuntik vaksin. Di Australia, kegiatan ini juga telah menjadi program pemerintah. Begitu juga di beberapa negara lain, seperti Selandia Baru, Taiwan, Hongkong, dan Singapura.

Masih baru

Di Indonesia, pentingnya imunisasi bagi orang dewasa belum populer. "Karena memang masih baru," kata Sukamto. Maklum, di Indonesia, imunisasi bagi orang dewasa baru diperkenalkan tahun 2000-an. Karena masih baru, tenaga medis penyalur imunisasi bagi orang dewasa masih kurang.

Selain itu, belum semua rumah sakit bisa memberikan pelayanan ini. "Saat ini yang bisa memberikan pelayanan hanya rumah sakit tertentu di kota besar," ucap Sukamto.

Selain itu, biaya imunisasi dewasa juga tergolong mahal, bisa mencapai jutaan rupiah, tergantung jenis vaksinnya. Maklumlah, imunisasi dewasa tidak mendapat subsidi pemerintah seperti imunisasi pada anak-anak.

Wajar saja bila banyak orang dewasa malas melakukan imunisasi. Selain itu, sosialisasi juga masih minim. Banyak orang juga kurang menyadari bahwa pemberian imunisasi sewaktu kecil tidak memberikan jaminan kekebalan tubuh yang tetap hingga dewasa. "Padahal, kerja vaksin makin menurun seiring pertambahan usia," kata Sukamto. Makanya, imunisasi perlu diulang ketika dewasa.

Dalam dunia kedokteran, imunisasi ulang disebut dengan istilah booster. Lewat booster itu tubuh diingatkan kembali terhadap kuman tersebut. "Imunisasi adalah pencegahan primer yang efektif," kata Sukamto.

Meski efektif bukan berarti orang dewasa yang telah diimunisasi tidak akan sakit. Namun, daya tahan tubuhnya dijamin lebih kuat ketimbang yang tidak diimunisasi.

Patut diketahui, setiap orang memang memiliki sistem imun atau kekebalan tubuh bawaan. Namun, pola hidup kurang sehat bisa melemahkan sistem imun tersebut. Saat itulah tubuh gampang terserang penyakit.

Menurut Asrul Hasral, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Kanker Dharmais, imunisasi untuk orang dewasa sesungguhnya sangat penting. Pasalnya, jenis penyakit yang diderita berbeda dengan anak kecil.

Imunisasi dewasa dapat diberikan kepada mereka yang berusia di atas 12 tahun. Jenisnya meliputi imunisasi influenza, pneumokokus, measles, mumps, rubela atau (MMR), lifter, pertusis, tetanus (DPT), imunisasi DT difter, dan tetanus (DT).

Vaksin-vaksin itu bisa diberikan secara berulang, antara 3 dan 10 tahun. Namun, ada juga vaksin yang tidak harus diulang ketika dewasa. Contohnya, vaksin hepatitis A dan B cukup dilakukan sekali seumur hidup. (Kontan/Sanny Cicilia Simbolon)