Tampilkan postingan dengan label Peristiwa Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peristiwa Alam. Tampilkan semua postingan


Di dataran yang kering, batu-batu besar dan kecil meluncur dengan sendirinya.

Tak ada yang pernah melihat batu itu bergerak. Hanya jejak-jejak di atas permukaan tanah -- jadi satu-satunya bukti-- yang menunjukkan bahwa mereka benar-benar bergerak.

Fenomena itu bukan dari planet alien, tapi terjadi di sebuah lokasi di Bumi. Tepatnya di Racetrack Playa di Taman Nasional Death Valley, California.

Pergerakan batu itu masih jadi misteri bagi kalangan ilmuwan yang menelitinya sejak tahun 1940-an.

Ada dua teori utama mengenai penyebab fenomena ini. Yang pertama mengatakan, penyebabnya adalah lapisan es tipis di atas permukaan tanah. Lainnya, yakin penyebabnya kelembaban dan angin.

Seperti dimuat situs Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), 17 mahasiswa dan lulusan Lunar and Planetary Sciences Academy (LPSA) NASA's Goddard Space Flight Center di Greenbelt baru-baru ini mengunjungi lokasi itu -- untuk menginvestigasi bagaimana batu-batu itu bergerak melintasi dataran yang nyaris kosong.

Beberapa batu diyakini bergerak secepat orang berjalan. Tapi, tak ada satupun pernah melihat batu-batu itu bergerak. Para ilmuwan juga belum menyimpulkan, apa sebenarnya yang membuat bebatuan bergerak.

Spekulasi yang beredar, karena dipindahkan hewan, pengaruh gravitasi, atau gempa bumi dengan cepat diabaikan, memberi ruang belajar dan spekulasi.

"Ketika melihat batu dan jejaknya yang menakjubkan, Anda akan memasuki ruang berisi ide tentang apa yang sebenarnya terjadi," kata Mindy Krzykowski, magang dari Universitas Alaska di Fairbanks.

Tim dibagi lima masing-masing dipimpin seorang ilmuwan Goddard. Tugas mereka, mengumpulkan data, koordinat GPS dari masing-masing batu dan memotonya.

Mereka menggali sensor kecil yang disebut Hygrochrons, yang atas seizin pihak Taman Nasional, telah terkubur tiga bulan sebelumnya. Sensor itu menangkap data suhu dan kelembaban.

Tim juga menandai batas jejak dengan paku payung, masuk ke celah-celah tanah liat untuk mengukur panjang, lebar, dan dalamnya. Mereka membenarkan pengamatan sebelumnya bahwa beberapa batu besar bergerak lebih jauh dari yang kecil.

"Apa yang terjadi di Racetrack Playa begitu rumit. Tidak segera diketahui, data apa yang sebenarnya relevan," kata Brian Jackson, salah satu pemimpin tim.

Dia dan koleganya telah mempelajari Racetrack Playa sejak tahun 2006 dan baru-baru ini menerbitkan sebuah laporan yang membandingkan situs itu dengan danau kering di satelit Saturnus, Titan.

Sempat muncul spekulasi bahwa apa yang terjadi di Racetrack Playa memiliki unsur yang membantu mereka bergerak.

Namun, batu-batu tersebut hanya batu dolomit gelap yang kebetulan ada di daerah dataran tinggi. "Batuan dolomit relatif umum. Justru lokasi di mana batu-batu itu ada yang membuat mereka spesial," tambah Jackson.

Leva McIntire dari Seattle Pacific University, memiliki hipotesis lain.

Dia menduga bahwa batu bergerak oleh regelation -- proses yang biasanya berhubungan dengan gletser dan gunung-gunung.

Regelation disebabkan oleh perbedaan tekanan pada dua sisi objek. Air di satu sisi tetap cair dan bocor di sisi lain, memerangkap gelembung udara di sisi kedua, yang berbentuk es.

McIntire berpikir ini bisa terjadi pada playa tersebut. Dia mencatat bahwa ada formasi gelembung-seperti di tanah liat di samping batu tertentu.

"Teori ini mungkin dapat menjelaskan bagaimana memindahkan batu besar," katanya, "karena tidak memerlukan daya pengapungan dari batu."

Belum disimpulkan penyebab pasti pergerakan batu. "Tak semua masalah dalam ilmu planet terpecahkan," kata Mindy Krzykowski. (umi)

Tunggu Bukti Keberadaan Alien 25 Tahun Lagi


Para ahli yang meyakini keberadaan alien yakin, bukti adanya mahkluk ekstraterresterial (ET) itu mungkin akan datang 25 tahun lagi.

"Saya yakin, peluang kita menemukan ET sangat besar," kata Seth Shostak, astronom senior Search for Extraterrestrial Intelligence Institute (SETI) di Mountai Vies, California, seperti dimuat laman Space.

"Para generasi muda di sini, saya yakin Anda memiliki kesempatan baik untuk melihat ini terjadi," kata dia di konferensi SETI.

Shostak mendasarkan keyakinannya pada estimasi persamaan Drake (Drake Equation) -- formula yang ditemukan pendiri SETI, Frank Drake.

Ini adalah formula untuk menghitung jumlah (N) dari peradaban alien yang mungkin bisa kita ajak berkomunikasi. Persamaan ini juga memperhitungkan berbagai faktor, termasuk kecepatan formasi bintang di galaksi, fraksi bintang yang diduga punya planet yang bisa dihuni, peradaban yang memiliki teknologi yang bisa menyiarkan keberadaan mereka ke ruang angkasa, dan panjang waktu sinyal yang akan disiarkan.

Beberapa faktor dalam persamaan Drake ini banyak yang diketahui angkanya. Namun, beberapa ilmuwan pentolan di SETI menyertakan prediksi mereka.

Salah satunya, astronom Carl Sagan. Dia membuat estimasi bahwa N = 1 juta dalam persamaan Drake, penulis fiksi ilmiah Isaac Asimov bertahan pada angka 670,000. Sementara, Drake sendiri lebih konservatif. Kata dia N=10.000.

Soal perbedaan itu, Shostak mengatakan, meski nilai yang lebih rendah yang ternyata benar, tak butuh waktu lama bagi para ilmuwan untuk menemukan tanda keberadaan alien.

"Jarak itu, dari jutaan ke 10.000 -- adalah estimasi dari orang-orang yang mendirikan dan bekerja dalam SETI," kata Shostak. "Orang-orang ini jelas tahu soal apa yang mereka bicarakan. Pointnya, kita akan melintasi kehidupan lain dalam beberapa lusin tahun atau bahkan dalam dua lusin tahun."

Pencarian alien oleh SETI diharapkan membuat lompatan dengan menggunakan Allen Telescope Array -- jaringan piringan radio yang sedang dalam proses pembangunan di California utara. Pada tahun 2015 diharapkan, array itu bisa memindai ratuan ribu bintang untuk mencari tanda-tanda kehidupan mahluk ekstraterresterial.

Namun, sementara itu, manusia bisa berharap menemukan tanda-tanda keberadaan alien dengan cara mengirim sinyal ke angkasa.

Meski, tambah Shostak, itu akan jadi hal yang sulit. Meski demikian, dengan memiliki bukti bahwa kita tidak sendirian di alam semesta mungkin akan menjadi prestasi yang bisa mengubah dunia. (sj)

Dua Anjing Penjelajah Pertama Luar Angkasa


Bukan manusia yang tenar sebagai penjelajah luar angkasa pertama. Melainkan dua anjing Soviet, Belka dan Strelka -- 50 tahun yang lalu mereka jadi mahluk hidup pertama yang mengelilingi orbit Bumi dan kembali dengan selamat.

Pada 19 Agustus 1960, Belka dan Strelka menjalani misi yang menjadi kunci persiapan penerbangan kosmonot Yuri Gagarin -- yang jadi manusia pertama di luar angkasa sekitar setahun kemudian.

Keberhasilan Belka dan Strelka merupakan tonggak kedigdayaan Soviet dalam eksplorasi luar angkasa. Dua anjing itu mendadak jadi selebritis dunia.

Pada tahun 1960, para ilmuwan luar angkasa Soviet mendesain pesawat ulang alik yang mampu membawa manusia ke orbit, namun mereka harus menguji coba pesawat itu pada binatang. Dan banyak anjing mati selama masa uji coba.

Para ahli saat itu memilih anjing liar, dengan pertimbangan mereka lebih tahan dalam kondisi keras, dan mereka berukuran kecil sehingga bisa masuk ke kapsul yang kecil.

Anjing pertama yang mengorbit Bumi adalah Laika. Menaiki kapsul non-ulang alik, Laika tewas karena overheating saat peluncurannya pada 1957. Dua anjing lainnya juga jadi martir pada Juli 1960 saat roket yang mereka tumpangi meledak beberapa detik setelah diluncurkan.

Boris Chertok, insinyur top dalam program luar angkasa Soviet saat itu mengaku lega saat mendengar Belka dan Strelka menggonggong saat berada di orbit. Para insinyur menghela nafas lega, menyadari mereka dalam kondisi baik.

"Mereka melolong, menggonggong -- ini berarti mereka akan kembali."

Belka (Squirrel) dan Strelka (Little Arrow) terbang bersama sekelompok hewan lainnya, curut, tikus, lalat, dan beberapa tanaman dan jamur. Pesawat mereka mendarat dengan selamat sehari setelah membuat 17 orbit dalam waktu lebih dari 25 jam.

"Anjing-anjing ini seperti profesional," kata Vladimir Tsevetov, kata salah satu insinyur -- seperti dimmuat laman Rossiya.

Laporan resmi Soviet mengklaim anjing-anjing ini dalam kondisi baik. Namun, tak semua peserta penerbangan ini bebas masalah. Belka, misalnya, ia sangat gugup selama penerbangan.

"Dia sangat gelisah, meronta, dan mencoba menyingkirkan sabuk yang melilitnya, lalu menggonggong," kata Yazdovsky dalam catatan kesehatan antariksa Soviet.

Namun, pemeriksaan medis pasca penerbangan menunjukkan, kedua anjing dalam kondisi baik tanpa efek buruk dari penerbangan.

Strelka bahkan punya enam anak, salah satunya yang diberi nama Pushinka (Fluffy), dikirim oleh pemimpin Soviet, Nikita Khrushchev untuk putri Presiden John F. Kennedy, Caroline.

Kisah heroik Belka dan Strelka akan diangkat ke layar lebar tahun ini dalam tampilan 3D. Judulnya, "Belka and Strelka: Star Dogs.

Misteri Dark 'Energy' Alam Semesta


Alam semesta akan terus berkembang selamanya. Demikian disimpulkan ilmuwan NASA dalam sebuah studi terbaru tentang salah satu teka-teki astronomi terbesar, 'dark energy' atau 'energi gelap'.

Para peneliti Badan Antariksa AS, NASA menggunakan Teleskop Hubble mengamati dark energy -- yang diyakini sebagai energi yang mendorong perkembangan alam semesta dalam kecepatan yang terus meningkat.

Ditemukan pada 1998, para astronom belum mendenifisikan apa kekuatan misterius itu -- kecuali bahwa kekuatan itu tak terlihat dan membuat 'bongkahan besar alam' semesta' sebesar 72 persen dari ukurannya.

Hampir seperempatnya, yakni 24 persen diyakini sebagai 'dark matter' atau 'materi gelap' yang juga misterius -- namun lebih mudah untuk dipelajari daripada 'energi gelap' karema efek gravitasinya.

Bagian yang tersisa dari alam semesta, sekitar 4 persen, dibuat dari unsur sama yang membentuk manusia, planet, bintang dan segala sesuatu yang terbuat dari atom.

Dengan menggunakan 'kaca pembesar raksasa galaksi' -- tim ilmuwan internasional yang dipimpin Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California -- menyimpulkan distribusi dark energy berarti alam semesta tak akan pernah berhenti tumbuh, berkembang.

Temuan ini, yang akan dipublikasikan alam jurnal Science Kamis 19 Agustus 2010 -- juga menemukan pada akhirnya dark energy akan mati dan menjadi seolah gurun dingin.

Para ilmuwan menggunakan Hubble dan teleskop besar milik Badan Antariksa Eropa (ESO), Very Large Telescope untuk mengobservasi bagaimana cahaya dari bintang yang jauh terdistorsi di dekat gugus atau klaster galaksi yang dinamakan Abell 1689.

Galaksi-galaksi tersebut -- yang ditemukan di konstelasi Virgo adalah salah satu klaster galaksi terbesar yang dikenal dalam ilmu pengetahuan.

Karena massanya yang besar, ilmuwan mengatakan itu 'seakan adalah sebuah kaca pembesar kosmik' yang menyebabkan cahaya membelok di sekitarnya.

"Kami harus mengamati semua sisi dari dark energy," kata Profesor Eric Jullo dari JPL, yang memimpin penelitian.

"Sangat penting untuk memiliki beberapa metode, dan sekarang kami mendapatkan yang baru, yang sangat kuat."

"Yang saya suka tentang metode baru kami adalah bahwa ini sangat visual. Anda secara harfiah bisa melihat gravitasi dan dark energy menikung di tampilan latar belakang galaksi, ke dalam busur."

Ditambahkan dia, kesimpulan penelitian ini adalah, ilmuwan bisa mengatakan untuk kali pertamanya bahwa alam semesta melakukan ekspansi yang -- akan terus menerus berlanjut dan alam semesta akan berkembang selamanya.

Sementara, Priya Natarajan, kosmolog dari Yale University, yang merupakan bagian dari tim, menambahkan, tim akan mengaplikasikan teknik ini ke lensa gravitasi yang lain.

Di Foto Ini Bumi & Bulan Bagai Bintang Kembar

Satelit penjelajah luar angkasa milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Messenger, mengambil foto Bulan sedang mengorbit Bumi.
Foto berlatar hitam yang dipenuhi titik-titik dan noktah putih diambil dari jarak 114 juta mil dari Bumi.

Dalam foto itu terlihat Bumi dan Bulan seperti 'bintang kembar' -- di mana Bulan tentu saja lebih kecil dari Bumi. Foto menakjubkan itu mengilustrasikan betapa kecilnya kita dibandingkan alam semesta.

Gambar luar biasa ini diambil dalam bagian misi Messenger mencari vulcanoid -- obyek batuan kecil yang diyakini para ilmuwan berada di orbit di antara Planet Merkurius dan Matahari.

Namun, meski tidak ada vulcanoid yang terdeteksi, roket Messenger berada di posisi unik untuk mencari objek kecil dan redup yang sebelumnya tak diperkirakan ada.

Messenger mencari vulcanoids saat orbit pesawat itu paling dekat dengan Matahari. Messenger mengikuti alur bagian dalam sistem tata surya, termasuk satu Bumi, Venus, dan Merkurius.

Messenger dengan menggunakan gravitasi dari Bumi dan Venus akan sedikit demi sedikit mengubah orbitnya sebelum bergerak ke orbit Merkurius pada bulan Maret 2011.

(Daily Mail)

Penampakan Bumi dan Bulan dari Planet Mars

NASA Temukan 'Planet Alien', Kembaran Bumi?


Badan antariksa Amerika Serikat (NASA) mengumumkan temuan baru yang dihasilkan satelit Kepler, Kamis 26 Agustus 2010.

Kepler menemukan kelompok planet alien, planet-planet yang tak pernah dilihat sebelumnya itu mengelilingi sebuah bintang -- seperti planet dalam tata surya yang mengelilingi Matahari. Temuan itu dinamakan sistem Kepler 9.

Pengamatan dari observatorium Kepler mengkonfirmasikan dua planet seukuran Saturnus mengorbit sebuah bintang -- dalam jarak sekitar 2.300 tahun cahaya dari Bumi.

Mereka juga mengungkapkan kandidat planet yang mungkin sama ukurannya dengan Bumi dalam sistem yang sama.

Mengapa kandidat? Karena keberadaannya belum terkonfirmasi.

Sampai saat ini, para astronom belum mengkonfirmasi apakah ada planet yang potensial seperti Bumi -- dalam arti bisa menopang kehidupan. Namun, analisa awal mengatakan, planet tersebut punya radius 1,5 kali Bumi.

Observasi lanjutan dari sistem planet tersebut akan membantu menjawab pertanyaan adakah kehidupan di luar Bumi.

"Kami berharap dalam beberapa hari atau minggu, kami bisa memastikannya," kata William Borucki, peneliti utama Keppler di

Pusat Penelitian Ames milik NASA, seperti dimuat laman Space, 26 Agustus 2010.

Untuk kali pertamanya, analisis pengamatan Kepler juga dikombinasikan dengan waktu transit dan observasi kecepatan radial untuk memperkirakan massa planet-planet alien itu.

Dua planet terbesar dalam sistem ini yang dinamakan Kepler 9b dan Kepler 9c -- ditemukan memiliki diameter yang hampir sama. Keduanya punya massa dan kepadatan seperti Saturnus.

Namun, dua planet tersebut terlalu dekat dengan bintang -- mirip Matahari, seperti Merkurius yang mengorbit Matahari. Dua planet itu diduga kuat tidak memiliki kehidupan karena sangat panas.

Planet Kepler adalah kelompok planet ke dua yang diumumkan minggu ini. Sebelumnya, astronom Badan Antariksa Eropa (ESO) mengumumkan penemuan 'tata surya' yang terdiri dari tujuh planet yang berjarak 127 tahun cahaya dari Bumi.

Kembaran Bumi?

Para astronot belum menemukan planet mirip Bumi dari observatorium Kepler.

Jika keberadaan planet ketiga mirip yang Bumi sudah ada konfirmasi, planet itu bisa menjadi 'planet terkecil' yang dikenal.

"Kami bisa mengatakan, dalam hal ukuran fisik, ini akan jadi yang terkecil, tapi kami belum mengetahui massanya," kata Matthew Holman, staf direktur divisi teori astrofisika di Harvard-Smithsonian Center, yang mengkonfirmasi temuan Kepper.

Keppler mengungkapkan, planet ketiga ini memiliki radius 11,5 kali Bumi dan memiliki periode orbital sekitar 1,6 hari di Bumi -- lebih pendek dari Kepler-9b dan 9c.

Para peneliti sedang meneliti apakah kandidat 'Kembaran Bumi' mengorbit di bintang yang sama dengan dua planet lain.

"Salah satu pesan dari pekerjaan ini adalah bahwa Kepler membuat kemajuan menuju tujuan untuk menemukan sistem planet yang mirip dengan tata surya kita."

Namun dalam hal kelayakan huni, sistem Kepler-9 mungkin bukan tempat yang tepat untuk mencari kehidupan.

"Planet-planet ini seperti tidak layak huni," kata Holman. Diperkirakan temperatur dua planet terbesar sangat tinggi, sekitar 740 derajat Kelvin (872 derajat Fahrenheit) dan 540 derajat Kelvin (512 derajatFahrenheit).

"Temperatur itu jauh di atas titik didih air, maka diduga kuat itu bukan planet berpenghuni. (hs)

Ada Pintu Neraka di Usbekistan

Ada Pintu Neraka di Usbekistan

DAVAZ, KOMPAS.com - Pintu neraka sering dilukiskan dengan suasana api menyala yang sangat mengerikan panasnya. Kondisi seperti itulah yang terdapat di sebuah lubang api menganga di daratan Usbekistan, Asia Tengah. Maka lubang api itu pun disebut sebagai "pintu neraka".

Lubang api itu berukuran sekitar dua kali lapangan bola dengan kedalaman lebih dari 30 meter. Semula ukurannya tidak sebesar itu sejak pertama kali tahun 1975 "pintu neraka" itu dijumpai manusia.

Awalnya ahli geologi menggali dengan alat berat untuk pengeboran gas alam. Anehnya, di lokasi itu ditemukan jurang besar di bawah tanah. Saking besarnya, semua peralatan untuk penggalian itu terperosok ke dalam.

Jurang itu dipenuhi dengan gas bumi yang beracun. Belum ada keterangan resmi Uni Soviet kala itu terkait berapa jumlah korban tewas akibat terkena gas beracun. Namun para ahli segera menyingkir dan semua peralatan yang terperosok itu ditinggal pergi.

Untuk menghindari gas beracun yang terlanjur terbuka ke langit bumi itu menyebar, para ahli memutuskan untuk membakarnya. Posisinya berada di dekat kota kecil bernama Davaz.

Praktis sejak 1975 lobang raksasa itu menyemburkan api seperti gunung berapi dan masih tetap menyala hingga kini walau sudah 35 tahun berlalu. Masyarakat sekitar tak ada yang berani mendekat karena pengaruh medan panas hingga beberapa ratus meter, sehingga dinamakan "pintu neraka".

Sampai sekarang belum ada penjelasan apakah "pintu Neraka" itu ukurannya melebar atau stabil karena gas yang keluar dari perut bumi itu langsung terbakar. Walau terkena hujan pun, apinya tidak mati.

Lubang api raksasa itu kelihatan dari kejauhan karena berada di daratan tandus yang luas. Bila malam, tampak semakin jelas dengan sorotan cahaya kekuningan yang bersumber dari "pintu neraka" itu.

Mirip dengan Lumpur Lapindo, yang terus mengeluarkan lumpur panas gara-gara pengeboran yang dinilai gagal sehingga menyembur ke permukaan bumi. Hingga kini juga belum ada ahli geologi yang mampu menghentikan semburan lumpur panas lapindo. Yang bisa dilakukan hanya membatasi agar area efek lumpur panas itu tidak terus melebar.

meteor di bima




Bima (Suara NTB)
Fenomena jatuhnya benda antariksa juga terjadi di Bima. Minggu (02/05) petang lalu, sebuah benda asing yang diduga meteor jatuh di sekitar bukit Ina Hami, Desa Ntori Kecamatan Wawo Kabupaten Bima. Kejadian itu sempat membuat panik warga dan hingga Senin (03/05) kemarin masih jadi tontonan.

Saiful (35), saksi mata kejadian itu, mengaku sekitar pukul 08.00 WITA melihat gumpalan cahaya melesat dari atas langit. Semakin dekat, gumpalan yang tadinya terlihat sebesar drum kian mengecil dengan arah menghujam. Bahkan ketika jarak sakitar 1 kilometer, Saiful melihat sebesar nyala senter. Pria yang sehari-hari sebagai tukang tambal ban di pinggir jalan lintas Bima – Sape itu kemudian mendengar suara ledakan.

Setidaknya ledakan terdengar tiga kali. Ledakan pertama saat benda asing itu menghantam kabel listrik yang membentang, kemudian jatuh ke tanah. Saat jatuh ke tanah, suara ledakan semakin keras diikuti percikan api besar. Hanya berselang dua menit, ledakan ketiga menggelegar. “Suara ledakannya keras sekali, lebih besar dari suara bom,” ujar Saiful menirukan dentuman suara dimaksud.

Bahkan cahaya yang timbul dari ledakan itu mampu menyinari gunung di sekitarnya. “Cahaya itu bertahan sekitar 20 menit,” cerita Saiful lagi. Setelah menghujam tanah, percikan benda yang mengenai tanah, juga menyisakan lubang-lubang kecil. Bentuknya lebih mirip gumpalan aspal kering warna hitam mengkilap. Jika gumpalan dipecah, maka tampak seperti beling (pecahan kaca).

Saat itu Saiful mengaku tengah menambal ban seorang pengendara. Begitu melihat ada benda bercahaya itu, dia membangunkan istrinya Raodah yang tengah tertidur. Dalam beberapa detik, dia melihat benda mendekati bukit yang jaraknya hanya sekitar 300 meter dari posisinya. Benda itu jatuh tepat di badan bukit di pinggir jalan lintas Bima - Sape itu dan sempat menyebabkan pemadaman listrik. Menurut warga lainnya, cahaya yang dipicu benda itu bisa dilihat dari Kecamatan Wawo dan Sape, bahkan sampai ke wilayah Kelurahan Kodo Kota Bima.Dahsyatnya cahaya yang timbul, menyebabkan sejumlah kendaraan, termasuk mobil tangki bahan bakar premium tidak berani lewat malam itu.

Pantauan Suara NTB, lokasi hanya berjarak sekitar 200 meter dari pinggir jalan dengan menaiki sedikit tanjakan. Tepat pada titik jatuhnya benda yang diduga meteor itu, menyisakan tiga lubang pada titik yang sama. Lubang terbesar dengan kedalaman sekitar satu meter.

Hingga siang kemarin, hawa panas dari sekitar lubang masih terasa. Pada pagi hari, warga yang sempat mencoba menjulurkan potongan besi ke dalam lubang, langsung meleleh. Karena khawatir, warga pun menutup lubang paling dalam.
Di sekitar lokasi, sebuah pohon langsung mati setelah diduga dihajar benda tersebut sebelum jatuh ke tanah. Kabel listrik sempat putus, namun pagi kemarin sudah disambung teknisi PLN.
Kejadian itu menjadi tontonan warga. Pengendara yang sebelumya mendengar keberadaan benda asing itu sempat singgah. Semua pengunjung menyempatkan membawa pecahan benda itu. Bahkan warga mengait-ngaitkan kejadian itu dengan fenomena jatuhnya meteor, termasuk rusaknya tiga rumah di Duren Sawit, Jakarta akibat dijatuhi benda yang diduga meteor.

Sampai siang kemarin, belum ada pengamanan di sekitar lokasi, bahkan tidak terlihat ada police line. Kasatreskrim Polresta Bima, AKP Yuyan Priatmaja, SIK mengaku belum mendapat laporan, namun mengaku akan segera mengecek ke TKP. (ris)